Minggu, 26 April 2015

jokowi berulah, lagi....



Jokowi: Nasib Ekonomi Dunia Tak Bergantung pada Bank Dunia & IMF

Gejolak ekonomi dunia hingga saat ini masih menjadi momok bagi negara-negara berkembang. Hal itu menjadi salah satu alasan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang tersebut mengalami penurunan.
Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menyerukan kepada seluruh pemimpin negara di Asia dan Afrika dalam pembukaan Asian African Summit 2015 (Konferensi Asia Afrika) di Jakarta untuk mendesak reformasi ekonomi dunia.
"Kami mendesak reformasi dari arsitek ekonomi baru untuk menghindari dominasi negara lain, saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan dunia kolektif yang harus dijalankan dengan tanggungjawab," kata Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (22/4/2015).
Reformasi dari arsitek ekonomi tersebut dimaksudkannya untuk pergerakan ekonomi negara Asia Afrika tidak harus tergantung kepada lembaga keuangan global seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB) dan IMF.

Untuk itu, Jokowi mengajak para pemimpin negara Asia Afrika untuk membuat keseimbangan baru terutama dalam mendapatkan pendanaan untuk pembangunan ekonomi di kawasan Asia Afrika.
"Saya bependirian bahwa nasib dari perekonomian dunia tidak harus harus tergantung pada ketiga lembaga dunia tersebut, kami harus membuat aturan ekonomi dunia baru yang terbuka kepada kekuatan ekonomi baru," papar Jokowi.
Saat ini kawasan Asia Afrika menjadi salah satu kawasan yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia dimana sebanyak 75 persen penduduk dunia ada di du kawasan ini.
Untuk itu kestabilan ekonomi dan kemandirian negara kawasan dapat diciptakan sehingga tidak tergantung pada negara-negara maju.(Yas/Gdn)

Padahal kebijakan jokowi dalam bidang ekonomi telah mengakibatkan ketergantungan berat terhadap lembaga keuangan global .seperti kasus kenaikan BBM  yang tidak dapat disadari karena pemerintah sendiri telah melepaskan harga BBM kepada harga minyak dunia. Dan pemotongan subsidi BBM ternyata merupakan buah dari ketaatan pemerintah sendiri kepada IMF yang dengan tegas menyatakan  "........ sebaiknya indonesia meniadakan subsidi yang jelas-jelas salah sasaran".

Alih - alih menolak atau menentang malahan penguasa negri ini langsung menaikkan harga BBM di awal masa pemerintahannya yang belum genap satu tahun. karena kebijakannya yang mendukung pernyataan IMF tersebut. Apa maksud dari semua kebijakan pemerintah ini? mengayomi rakyat atau malah menyengsarakan rakyat?  Kenapa sikap yang dipilih bertentangan dengan perkataan , bahkan janji –janji jokowi? .Tentu berbeda sekali dengan konsep didalam islam yang lembaga keuangan , ekonomi, pendidikan, perniagaan kesehatan ditinjau langsung oleh Negara.yang diwakili para wazir – wazir yang tentunya dipilih karena keamanahannya dalam menindak lanjuti suatu tanggung jawab. Yang tentunya dipantau langsung oleh kepala Negara. Tidak serta merta digantungkan pada lembaga swasta bahkan asing. Wallahu a’lam bi shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar